Alam Sutera DOCTORS

Prof. DR. dr. Najib Advani, Sp.A(K), MMed (Paed)

Doctor

Alam Sutera Prof. DR. dr. Najib Advani

Dokter Spesialis Anak - Jantung / Cardiologist Pediatrician dan juga sebagai Dokter Spesialis Penanganan Penyakit Kawasaki Disease

Dr. dr. Najib Advani, Sp.A(K), MMed(Paed) kelahiran 26 April silam ini memiliki minat dibidang ilmu kesehatan anak dan khususnya jantung anak. Ia sebagai lulusan dokter umum tahun 1979 dan dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1989. Ia sempat memperdalam ilmu kesehatan anak dan jantung anak di Belanda (Sophia Children's Hospital, Erasmus University, Rotterdam, 1997) dan Australia (Royal Children's Hospital, University of Melbourne, 1997-1998), tempat ia meraih gelar MMed.Paed (Master of Medicine in Paediatrics, master dalam ilmu kesehatan anak dengan pendalaman dibidang jantung dan anak). Ia juga mendapat pengakuan sebagai dokter spesialis anak konsultan jantung anak pada tahun 1999. Sempat juga mengikuti pelatihan kardiologi anak di Amerika Serikat (2006).

Dosen senior di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini selanjutnya berhasil meraih gelar doktor (S3) dibidang penyakit Kawasaki dengan pengalaman yang luas, dan ditunjuk sebagai ketua registri penyakit Kawasaki untuk tingkat Asean. Pengalaman kerjanya luas dan bervariasi, mulai dari Puskesmas tanpa listrik di daerah terpencil hingga rumah sakit kelas dunia di Belanda dan Australia. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua dokter jantung anak Indonesia (UKK Kardiologi) selama 2 periode. Dan juga banyak sekali simposium maupun loka karya telah diikutinya didalam maupun diluar negeri, baik sebagai pembicara maupun peserta. 

 

 

  • Pelatihan International Patient Safety Goal
  • Pelatihan Hand Hygiene
  • Pelatihan Basic Cardiac Life Support

Pengalaman Kerja 

  • Omni Alam Sutera
  • Siloam Hospital Karawaci
  • RS Bintaro

Specialities 

  • S1 Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
  • S2 Spesialis Anak, Universitas Indonesia.

Member 

  • Anggota IDI 
  • Anggota IDAI
  • Deteksi Dini Penyakit Kawasaki

    Banyak kasus penyakit kawasaki (PK) yang terlambat, bahkan tidak terdiagnosis di Indonesia, padahal angka kejadiannya, termasuk di Jateng, cukup tinggi, diperkirakan 6 ribu kasus per tahun. Hal yang paling ditakuti

    Read More

    Banyak kasus penyakit kawasaki (PK) yang terlambat, bahkan tidak terdiagnosis di Indonesia, padahal angka kejadiannya, termasuk di Jateng, cukup tinggi, diperkirakan 6 ribu kasus per tahun. Hal yang paling ditakuti dari penyakit itu yang terutama menyerang balita adalah komplikasi ke jantung, yang bisa menyebabkan kematian.

    TIDAK ada salahnya para orang tua di Jateng untuk waspada mengingat bukan tak mungkin penyakit yang namanya mengambil nama penemunya pada 1967, Tomisaku Kawasaki, menyerang anak Anda. Penyakit itu juga disebut mucocutaneous lymphnode syndrome karena menyebabkan perubahan khas pada membran mukosa bibir dan mulut, disertai pembengkakan kelenjar limfe yang diikuti rasa nyeri.

    Kebanyakan kasus itu ditemukan di Asia Pasifik. Sekitar 40% kasus menyerang anak di bawah umur 4 tahun. Prevalensi di Amerika Serikat adalah 19 dari 100 ribu anak, dan di Jepang angkanya jauh lebih tinggi, yakni 175 dari 100.000 anak terkena penyakit ini. Anak laki-laki lebih sering terkena dibandingkan dengan anak perempuan, dengan ratio 1,5 : 1.

    Dr dokter Najib Advani dalam International Symposium on Kawasaki Disease di San Diego Amerika Serikat pada Februari 2005 melaporkan belum ada kasus penyakit itu di Indonesia. Dia yang pakar penyakit jantung anak FKUI/ RSCM bersama rekan-rekannya kemudian melakukan penelitian studi restropektif di dua rumah sakit di Jakarta.

    Dalam penelitian untuk menemukan pola-pola penyakit tersebut, dia bersama timnya menemukan 27 pasien yang dikonfirmasi secara klinis terdiagnosis terkena penyakit itu. Sejak itu, negara kita dimasukkan dalam peta dunia penyakit kawasaki. Terlebih pada 2009 ditemukan 5.000 kasus. Meskipun jumlah penderita cukup menonjol, penyebab penyakit itu hingga kini belum diketahui secara pasti.

    Beberapa peneliti hanya bisa menduga-duga penyebabnya adalah racun yang dikeluarkan kuman tertentu, kendati belum ada bukti kuat yang mendukung dugaan tersebut. Dugaan lain adalah peran dari faktor genetik dan sistem imunitas penderita. Karena itu, cara pencegahannya pun secara spesifik belum diketahui.  

    Terapi Dini

    Dokter hanya bisa menyarakankan perlunya menjaga daya tahan tubuh anak agar tidak terinfeksi penyakit itu, yang tidak terbukti menular. Kita bisa mengenali secara dini tanda dan gejala penyakit itu, yaitu demam diawali dengan suhu tubuh mendadak tinggi, bisa sampai 41 derajat Celcius; naik turun selama 5 hari meskipun sudah diberi obat penurun demam.

    Setelah itu timbul bercak-bercak merah di badan mirip tanda penyakit campak. Mata merah tetapi tidak berair atau berlendir. Bibir juga berwarna merah, kering, dan pecah-pecah, serta lidah dan selaput lendir berwarna merah stroberi (strawberry tongue).

    Pemeriksaan laboratorium meski dapat membantu, tetap tidak dapat memastikan diagnosis penyakit tersebut. Bahkan pada fase penyembuhan, trombosit meningkat dan ini memicu terjadinya pembekuan darah yang bisa menyumbat pembuluh koroner jantung. Karena itu, sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit guna mengatasi mengurangi kemungkinan timbulnya komplikasi jantung.

    Yang tidak bisa dianggap sepele adalah cara pencegahan spesifik penyakit itu yang hingga kini  belum diketahui. Kita hanya bisa menjaga daya tahan tubuh anak agar tidak terinfeksi. Bila kita curiga anak menderita penyakit kawasaki, segera periksakan ke dokter untuk memastikan diagnosisnya sehingga mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat.

    Diagnosis dan terapi dini memegang peranan yang sangat penting sehingga pengobatan dapat dilakukan secepatnya. Kecepatan bertindak itu juga penting guna mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi yang ditakutkan adalah kelainan jantung, antara lain bisa lewat peradangan pembuluh darah yang akhirnya menyebabkan kelainan pada arteri koroner, yaitu pembuluh darah besar yang sangat penting untuk memasok darah dari jantung ke seluruh tubuh.

     

     

     

    Dr. dr. Najib Advani

    Dr. dr. Najib Advani

    Sp.A(K), M Med (Paed) | Doctor

    Read More

  • Penyakit Kawasaki

    Banyak kasus Penyakit Kawasaki (PK) yang sampai sekarang masih belum diwaspadai yang akhirnya terlambat terdiagnosis di Indonesia padahal insiden di negara kita diperkirakan 5000 kasus per tahun. Ketakutan terbesar dari

    Read More

    Banyak kasus Penyakit Kawasaki (PK) yang sampai sekarang masih belum diwaspadai yang akhirnya terlambat terdiagnosis di Indonesia padahal insiden di negara kita diperkirakan 5000 kasus per tahun. Ketakutan terbesar dari penyakit yang menyerang balita ini biasanya terjadi komplikasi ke arteri koroner yaitu aneurisma (pada 20-40 % kasus yang tidak diobati) dengan konsekuensi trombosis dan stenosis arteri koroner di mana dapat mengakibatkan infark miokard yang fatal. Untuk penyakit ini, diagnosis ditegakkan atas dasar gejala klinis tidak hanya saja dari pemeriksaan laboratorium. Diagnosis dini disertai pengobatan yang cepat dan tepat dapat mencegah dan mengurangi secara bermakna komplikasi jantung.

    Kriteria diagnostik PK yang biasanya :

    1. Demam minimal 5 hari
    2. Eksantema Polimorf (berbagai bentuk)
    3. Injeksi konjungtiva bilateral (tanpa eksudat)
    4. Kelainan pada bibir dan rongga mulut : lidah stroberi, rongga mulut merah, bibir merah dan pecah
    5. Kelainan pada tangan dan kaki : edema dan eritema (fase akut), deskuamasi ujung jari (fase subakut/konvalesen)
    6. Limfadenitis servikal (leher) unilateral (diameter > 1,5cm)

     

    Diagnosis PK dapat ditegakkan jika ditemukan gejala demam ditambah dengan 4 dari 5 kriteria lain di atas. Jika ditemukan kelainan arteri koroner (pada ekokardiografi atau angiografi), bersifat diagnostik namun jika dijumpai kurang dari 4 kriteria selain demam (PK inkomplit), perlu disingkirkan karena kemungkinan penyakit lain yang penampilannya mirip. PK dibagi atas 3 fase: Akut (hari 0-10), subakut (hari 11-25) dan konvalesen (hari 25>).

    Kelainan lain yang dapat dijumpai (diluar kriteria diagnostik terapi menunjang diagnosis):

    Kardiovaskular

    Irama derap, perubahan EKG (aritma, takikardi, gelombang Q abnormal, interval PR dan/atau QT memanjang, voltase rendah, perubahan gelombang ST-T), kelainan foto toraks (kardiomegali), kelainan ekokardiografi, angina pektoris atau infrak miokard.

    Gastrointestinal

    Diare, muntah, hidrop kandung empedu, ikterus ringan, pengikatan enzim transaminase Darah Laju endap darah naik, leukositosis dengan pergeseran ke kiri, CRP (C Reactive Protein) naik, hipoalbuminemia, anemia ringan (fase akut), trombositosis (fase subakut).

    Urine

    Proteinuria, leukosit meningkat.

    Kulit

    Kemerahan dan krusta pada bekas suntikan BCG, kulit sekitar anus mengelupas. Pada fase konvalesen : garis transversal pada kuku (Beau's line).

    Respirasi

    Batuk, pilek, infiltrat paru.

    Sendi

    Artritis, artralgia kadang sampai berjalan.

    Neurologik

    Rewel, mudah marah, kesadaran menurun, kejang, peningkatan sel pada cairan serebrospinal.

     

    Tatalaksana PK (Penyakit Kawasaki)

    1. Semua pasien dengan PK harus dirawat inap dan dilakukan ekokardiografi (oleh kardiolog anak).
    2. Pemberian imunoglobulin (gammaglobulin) 2g/kgBB IV dalam 12 jam. Awasi tanda-tanda vital selama pemberian. Saat pemberian ideal hari ke 5-7, toleransi sampai hari ke 10 awitan demam. Jika setelah 10 hari masih ada demam (yang bukan karena sebab lain selain PK) atau ditemukan aneurismakoroner disertai inflamasi sistematik berlanjut (LED/CRP masih tinggi), imunoglobulin mungkin masih perlu diberikan.
    3. Asam asetil salisilat diberikan 80-100 mg/kgBB/hari (dibagi 4 dosisi) sampai 2-3 hari setelah demam reda kemudian diturunkan menjadi 3-5 mg/kgBB/hari sekali sehari selama 6-8 minggu jika tidak ada kelainan koroner. Jika ada kelainan koroner harus diteruskan sampai koroner kembali normal.
    4. Imunisasi campak dan varisela ditunda minimal 11 bulan setelah pemberian imunoglobulin.
    5. Pada penderita dengan aneurisma koroner berat (giant aneurysm) perlu diberi antikoagulan selain asam asetil salistilat. Tindakan intervensi atau bedah pintas koroner dipertimbangkan pada kasus stenosis koroner yang berat.

     

    Beberapa masalah diagnosis yang sering dijumpai pada kasus PK:

    1. PK terdiagnosis sebagai campak atau rubella (campak Jerman)
    2. Anak datang dengan demam dan pembesaran kelenjar getah bening leher satu sisi. Ditegakkan diagnosis parotitis atau limfadentis koli. Setelah dapat obat, timbul ruam kemerahan pada kulit dan bibir. Hal ini kemudian disangka sebagai reaksi obat.
    3. Penemuan leukosituri pada anak dengan demam dan ruam, didiagnosis sebagai infeksi saluran kemih.
    4. Anak dengan demam, ruam, dan peningkatan kadar biliriru bin dan enzim transaminase , disangka hepatitis.
    5. Kadang anak dengan demam, ruam, dan nyeri perut hebat, didiagnosis sebagai akut abdomen.
    6. Bayi muda dengan demam dan ruam yang disertai pening katan cairan serebrospinal didiagnosis sebagai meningitis viral.

     

    PK harus dipertimbangkan sebagai diagnosis diferensial pada setiap anak dengan demam selama beberapa hari, ruam dan konjungtivitis non purulen, terutama anak <1 tahun dan pada remaja; pada kedua kelompok ini diagnosis PK sering terlewatkan.

  • Penyakit Kawasaki Hadir di Indonesia

    Hari masih pagi saat sebuah mobil mewah meluncur dengan kencangnya di jalan bebas hambatan di Eropa. Tiba-tiba mobil menghantam tepi jalan dan terbalik. Saksi mata yang melihat menduga si pengemudi

    Read More

    Hari masih pagi saat sebuah mobil mewah meluncur dengan kencangnya di jalan bebas hambatan di Eropa. Tiba-tiba mobil menghantam tepi jalan dan terbalik. Saksi mata yang melihat menduga si pengemudi mabuk. Polisi datang dan menemukan si pengemudi seorang gadis berusia 19 tahun, meninggal. Hasil otopsi menunjukkan bahwa ia tiba-tiba kena serangan jantung koroner sehingga tidak dapat lagi mengontrol mobilnya. Ternyata data rekam medisnya menunjukkan bahwa ia pernah terkena penyakit  Kawasaki saat berusia 2 tahun tanpa disadari, baik oleh dokter maupun keluarganya.

    Tragedi serupa dialami Joni, bayi lucu yang berusia 8 bulan. Sudah lebih 10 hari ia demam dan ibunya sudah berganti dokter. Akhirnya, barulah diketahui bahwa ia menderita penyakit Kawasaki. Sayang sudah terlambat. Katup jantungnya mengalami kerusakan parah dan nyawanya tak tertolong lagi.

    Apakah penyakit Kawasaki (PK) itu ?

    PK ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967 dan saat itu dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome. Untuk menghormati penemunya, penyakit itu akhirnya dinamakan Kawasaki. Di Indonesia, banyak di antara kita yang belum memahami penyakit berbahaya ini, bahkan di kalangan medis sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan diagnosis acap terlambat dengan segala konsekuensinya. Penampakan penyakit ini juga dapat mengelabui mata sehingga dapat terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong. Penyakit yang lebih sering menyerang ras Mongol ini terutama menyerang balita dan paling sering terjadi pada usia 1-2 tahun. Bahkan, penulis pernah menemukan PK pada seorang bayi berusia 3 bulan yang menderita demam selama 18 hari. 

    Angka kejadian per tahun di Jepang tertinggi di dunia, yaitu berkisar 1 kasus per seribu anak balita. Peringkat itu disusul oleh Korea dan Taiwan. Adapun di Amerika Serikat berkisar 0,09 (pada ras kulit putih) sampai 0,32 (pada keturunan Asia-Pasifik) per seribu balita. Di Indonesia, penulis menemukan bahwa kasus PK sudah ada sejak tahun 1996. Namun, ada dokter yang menyatakan sudah menemukan sebelumnya. Meskipun demikian, Indonesia baru resmi tercatat dalam peta penyakit Kawasaki dunia setelah laporan seri kasus PK dari Advani dkk diajukan pada simposium internasional penyakit Kawasaki ke-8 di San Diego, AS, pada awal 2005. 

    Diduga, kasus di Indonesia tidaklah sedikit, dan menurut perhitungan kasar, berdasarkan angka kejadian global dan etnis di negara kita, tiap tahun akan ada 3.300-6.600 kasus PK. Namun kenyataannya, kasus yang terdeteksi masih sangat jauh di bawah angka ini. Antara 20 dan 40 persennya mengalami kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Sebagian akan sembuh. Namun, sebagian lain terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu. Sebagian kecil akan meninggal akibat kerusakan jantung.

    Penyebab PK hingga saat ini belum diketahui, meski diduga kuat akibat suatu  infeksi. Namun, belum ada bukti yang meyakinkan mengenai hal tersebut. Karena itu, cara pencegahannya juga belum diketahui. Penyakit ini juga tidak terbukti  menular.

    Gejala awal pada fase akut adalah demam yang mendadak tinggi dan bisa mencapai 41 derajat celsius. Demam berfluktuasi selama setidaknya 5 hari, tetapi tidak pernah mencapai normal. Pada anak yang tidak diobati, demam dapat berlangsung selama 1-4 minggu tanpa jeda. Pemberian antibiotik tidak menolong. Sekitar 2-3 hari setelah demam, mulai muncul gejala lain secara bertahap, yaitu bercak-bercak merah di badan yang mirip seperti penyakit campak. Namun, gejala batuk pilek yang dominan pada campak biasanya ringan atau bahkan tidak ada pada PK. 

    Gejala lain yang timbul adalah kedua mata merah, tetapi tanpa kotoran (belekan), pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher sehingga kadang diduga penyakit gondong (parotitis), lidah merah menyerupai stroberi, bibir juga merah dan kadang pecah-pecah, serta telapak tangan dan kaki merah dan agak membengkak. Kadang anak mengeluh nyeri pada persendian. Pada fase penyembuhan, terjadi pengelupasan kulit di ujung jari tangan serta kaki kemudian timbul cekungan berbentuk garis melintang pada kuku kaki dan tangan (garis Beau)

    Penderita PK harus dirawat inap di rumah sakit dan mendapat pengawasan dari dokter ahli jantung anak. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah pada jantung (terjadi pada 20-40 persen penderita) karena dapat merusak pembuluh nadi koroner. Komplikasi ke jantung biasanya mulai terjadi setelah hari ke-7 dan ke-8 sejak awal timbulnya demam. Pada awalnya, pembuluh ini dapat terjadi pelebaran kemudian bisa terjadi penyempitan bagian dalam atau sumbatan. Akibatnya, aliran darah ke otot jantung terganggu sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada otot jantung yang dikenal sebagai infark miokard

    Pemeriksaan jantung menjadi hal yang sangat penting, termasuk EKG dan ekokardiografi (USG jantung). Kadang ultrafast CT scan, Magnetic Resonance Angiography (MRA) atau kateterisasi jantung diperlukan pada kasus yang berat. Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit ini tidak ada yang khas. Biasanya, jumlah sel darah putih, laju endap darah, dan C Reactive protein meningkat pada fase akut. Jadi, diagnosis ditegakkan atas dasar gejala dan tanda klinis semata sehingga  pengalaman dokter sangat dibutuhkan. Pada fase penyembuhan, trombosit darah  meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya trombus atau bekuan darah yang menyumbat pembuluh koroner jantung.

    Obat yang mutlak harus diberikan adalah imunoglobulin secara infus selama 10-12 jam. Obat yang didapat dari plasma donor darah ini ampuh, baik untuk meredakan gejala PK maupun menekan risiko kerusakan jantung. Namun harga yang mahal menjadi kendala. Harga satu gram berkisar Rp 1 juta. Penderita PK membutuhkanimunoglobulin 2 gram per kg berat badannya. Sebagai contoh, anak yang berat badannya 15 kg membutuhkan 30 gram, dengan harga sekitar Rp 30 juta. Penderita juga diberikan asam salisilat untuk mencegah kerusakan jantung dan sumbatan pembuluh koroner. Jika tidak ada komplikasi, maka anak dapat dipulangkan dalam beberapa hari.

    Pada kasus yang terlambat dan sudah terjadi kerusakan pembuluh koroner, perlu rawat inap yang lebih lama dan pengobatan yang intensif guna mencegah kerusakan jantung lebih lanjut. Jika dengan obat-obatan tidak berhasil, maka kadang diperlukan operasi pintas koroner (coronary bypass) atau bahkan, meskipun sangat jarang, transplantasi jantung. Kematian dapat terjadi pada 1-5 persen penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi pada 15-45 hari setelah awal timbulnya demam. Meskipun demikian, kematian mendadak dapat terjadi bertahun-tahun setelah fase akut. PK juga dapat merusak katup jantung (terutama katup mitral) yang dapat menimbulkan kematian mendadak beberapa tahun kemudian. Kemungkinan kambuhnya penyakit ini adalah sekitar 3 persen.

    Pada penderita yang secara klinis telah sembuh total sekalipun dikatakan bahwa pembuluh koronernya akan mengalami kelainan pada lapisan dalam. Hal ini memudahkan terjadinya penyakit jantung koroner, kelak pada usia dewasa muda. Jika ditemukan serangan jantung koroner akut pada dewasa muda, maka mungkin perlu dipikirkan bahwa penderita kemungkinan pernah terkena PK saat masih kanak-kanak. Kiranya kita semua perlu mewaspadai penyakit agar tidak menimbulkan korban lebih lanjut.

     

     

    Dr. dr. Najib Advani

    Dr. dr. Najib Advani

    Sp.A(K), M Med (Paed) | Doctor

    Read More

  • Waspada, Penyakit Kawasaki Serang Anak

    Jika anak Anda rewel dan demam tinggi hingga 104 F, terdapat beberapa bercak merah di bagian tubuh anak, kemudian ada pembengkakan dibagain leher, waspadalah, bisa jadi anak anda terserang penyakit

    Read More

    Jika anak Anda rewel dan demam tinggi hingga 104 F, terdapat beberapa bercak merah di bagian tubuh anak, kemudian ada pembengkakan dibagain leher, waspadalah, bisa jadi anak anda terserang penyakit Kawasaki.

    Apa itu penyakit kawasaki, seperti yang dikutip pediatrics.ucsd.edu, Kawasaki adalah penyakit yang disebabkan peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh. Penyakit ini ditemukan di Jepang pada 1967 oleh seorang dokter anak bernama Kawasaki. Untuk menghargai jasanya, penyakit ini pun dinamai Kawasaki.

    Kawasaki selalu menyerang anak-anak terutama di usia di bawah lima tahun, kebanyakan kasus yang ditemukan adalah pad anak laki-laki. Gejala yang ditimbulkan saat anak terserang penyakit Kawasaki adalah demam beberapa hari, timbul ruam atau bercak merah, pembengkakan tangan dan kaki, mata merah, iritasi dan peradangan selaput lendir mulut, bibir, lidah dan tenggorokan serta pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Dampak jangka pendek mungkin tidak terlalu serius, tetapi pada beberapa kasus dapat terjadi komplikasi jangka panjang termasuk kerusakan arteri koroner.

    Hingga saat ini belum diketahui secara jelas penyebab penyakit Kawasaki. Banyak peneliti berpendapat mungkin akibat infeksi (virus atau bakteri). Terdapat kecenderungan kearah faktor herediter atau keturunan sehingga misalnya lebih sering ditemukan pada keturunan Jepang. Saat ini tidak ada bukti bahwa penyakit ini bisa menular.

    Penanganan terbaik bagi penderita Kawasaki adalah pemberian gamaglobulin (fraksi protein darah manusia) dosis tinggi yang diberikan secara intravena. Obat inipaling efektif dalam mengurangi peradangan dan mencegah kerusakan arteri koroner jika diberikan dalam 10 hari pertama sejak sakit. Juga diberikan aspirin dosis tinggi pada awal fase akut sampai demam reda.

    Jika anak Anda sudah menunjukan gejala seperti di atas, segera periksakan anak Anda ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Jika terlambat ditangani, penyakit Kawasaki akan berakibat fatal yang berujung pada kematian.

     

     

    Dr. dr. Najib Advani

    Dr. dr. Najib Advani

    Sp.A(K), M Med (Paed) | Doctor

    Read More

  • Waspadai Penyakit Jantung Bawaan

    Kompas.com - Kegembiraan karena lahirnya si buah hati tak berlangsung lama di rumah Ny. Dinda. Pasalnya, dokter menyatakan bahwa anaknya menderita Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Ia tak kunjung mengerti, mengapa

    Read More

    Kompas.com - Kegembiraan karena lahirnya si buah hati tak berlangsung lama di rumah Ny. Dinda. Pasalnya, dokter menyatakan bahwa anaknya menderita Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Ia tak kunjung mengerti, mengapa hal ini bisa terjadi pada anaknya? Menurut dr. Najib Advani, Sp.AK, MMed.,Paed. , 1 diantara 125 bayi yang lahir hidup menderita PJB. "Penyakit ini tidak memandang tingkat sosial ekonomi atau ras. Tidak pandang bulu, risikonya sama." Penyebab PJB paling banyak adalah multifaktoral. Penyebab multifaktoral bisa karena pengaruh dari ibu saat hamil. Misalnya waktu hamil ibu terkena infeksi rubella.

    "Kalau ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, maka kemungkinan bayi yang dikandung akan menderita PJB, disamping akibat lain rubella, seperti kebutaan," ujar dokter konsultan ahli jantung anak dari Bagian Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Penyebab lain adalah ibu yang suka minum minuman beralkohol saat hamil, ibu yang menderita diabetes mellitus, atau ibu yang mengkonsumsi obat-obat tertentu saat hamil, seperti obat-obat hormon. "Misalnya pil KB tertentu. Si ibu mungkin tidak tahu ia sudah hamil dan terus saja minum obat KB. Nah, hal ini diduga akan menyebabkan anak menderita PJB." Kendati sulit diketahui penyebabnya, PJB dapat dideteksi sejak janin masih dalam kandungan berusia 18 minggu.

    Biasanya pemeriksaan dilakukan dokter jantung anak dan terutama deteksi dilakukan untuk ibu yang cenderung anaknya menderita PJB. Misalnya, jika anak pertama menderita PJB, maka pada kehamilan kedua kemungkinan bayi juga menderita PJB. Atau jika ibunya diketahui terkena rubella waktu hamil.

    Selain itu, ibu penderita PJB, maka kemungkinan anaknya terkena PJB akan lebih besar dibandingkan anak dari ibu yang tidak menderita PJB. "Kemungkinannya 3 persen atau satu di antara seratus. Ada juga jenis PJB yang kemungkinan diturunkan ke anaknya sekitar 10 persen."

    Mudah lelah

    Jenis PJB, menurut Najib, sangat beragam. Variasinya bisa lebih dari 20, dan masing-masing memberikan gejala yang berbeda. Paling sering ditemukan kasus terdapatnya celah atau lubang pada sekat antara bilik kiri dan kanan atau sekat antara serambi kiri dan serambi kanan jantung. "Jika lubang atau celahnya kecil, kemungkinan akan menutup sendiri," jelas konsultan ahli rubrik Tanya Jawab Kesehatan Anak nakita ini. Untuk itu, terang Najib, anak penderita PJB akan dilihat perkembangannya. Bila membaik, sampai usia 2-3 tahun, mungkin tak perlu operasi. "Tapi bila celah terus membesar dan pertumbuhan fisik anak terganggu, maka mungkin sebelum satu tahun harus dioperasi."

    Jenis lain adalah adanya penyempitan pada saluran keluar atau katup saluran keluar dari jantung. Bisa juga letak pembuluh darah yang tidak normal sehingga pembuluh darah ke paru-paru bertukar tempat dengan pembuluh darah ke badan atau disebut transposisi pembuluh nadi besar."Akibatnya, badan tidak mendapat oksigen karena semua oksigen lari ke paru-paru. Bila ini terjadi tentu semua fungsi organ akan terganggu." Biasanya ini harus dioperasi pada minggu-minggu pertama setelah bayi lahir. Lebih lanjut Najib menerangkan bahwa secara garis besar, PJB dibagi dalam 2 kelompok; PJB biru dan tidak biru. PJB biru biasanya lebih berat. Gejala PJB biru sudah ketahuan ketika bayi baru lahir. "Misalnya bibir atau kukunya berwarna biru. Nah, kita harus pikirkan kemungkinan anak terkena PJB."

    Ada juga bayi baru lahir langsung sesak nafas. "Ini harus dioperasi beberapa hari setelah lahir. Kalau tidak, ia bisa tidak tertolong." Gejala lain pada PJB berat, anak mudah lelah. Pada bayi yang masih minum ASI, akan terlihat bahwa ia tidak kuat lama menetek. Sebentar berhenti untuk beristirahat, baru kemudian menetek lagi. Sedangkan pada anak yang lebih besar, ia akan kelihatan tidak kuat bermain lama-lama, mudah lelah, dan dadanya gampang berdebar-debar. Saat berjalan, misalnya, baru berjalan sebentar sudah berjongkok karena kecapekan. Sementara pada PJB ringan kerap muncul tanpa gejala, sehingga tak tampak saat lahir. Umumnya gejala yang muncul adalah anak sering batuk pilek atau panas yang tidak sembuh-sembuh.

    Yang jelas, apa pun jenisnya, PJB bisa mengganggu tumbuh kembang anak. Pada beberapa kasus ditemukan fisik anak tidak tumbuh dengan baik. "Badannya kecil, ternyata setelah diperiksa ia menderita PJB. Barulah setelah dioperasi, badannya bisa besar dan gemuk." Artinya kalau pertumbuhan badannya kecil sementara pemeriksaan lain tidak menunjukkan adanya kelainan, harus diwaspadai kemungkinan PJB. Itulah mengapa, deteksi dini penting dilakukan. Misalnya, pembuluh darah yang masih belum menutup pada bayi prematur. "Kalau segera diketahui dan diberi obat, mungkin akan segera menutup. Tetapi kalau didiamkan dan baru ketahuan setelah beberapa minggu, maka tidak bisa diberi obat lagi dan harus dioperasi."

    Selain itu, jika tidak dideteksi dini, jantung yang bekerja terlalu berat bisa mengalami gagal jantung yang bisa berakibat kematian. Artinya, jantung tidak bisa lagi memompa darah sesuai kebutuhan tubuh. Pada PJB, lanjut Najib, jantung dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak normal. "Akibatnya, anak gampang capek. Kalau lelah dan jantung tidak sanggup lagi, akhirnya gagal jantung." Namun demikian, terang Najib, orang tua sebaiknya jangan terlalu membiarkan, tapi juga jangan terlalu overprotektif pada anak penderita PJB. Misalnya, anak menderita PJB ringan, tapi orang tua selalu melarang karena khawatir.

    "Hal ini akan mengganggu tumbuh kembang anak. Anak akan merasa dirinya lain dari yang lain, akibatnya ia akan minder." Tapi juga, orang tua juga jangan selalu membolehkan anak, demi pemanjaan atas kondisinya. "Justru orang tua harus tahu mana yang boleh dan mana yang enggak." Misalnya, untuk penderita PJB berat, tidak disarankan melakukan olahraga bersifat kompetitif. "Karena akan membuat anak lupa daratan. Ia terlalu bersemangat, sehingga energinya akan terkuras habis-habisan." Yang penting, anjur Najib, kontrol teratur. "Ikuti instruksi dan saran dokter supaya kondisi anak tidak tambah buruk. Sehingga anak bisa hidup seperti anak lain, minimal mendekati."

     

Jadwal Praktek Dokter

Senin, Rabu – Jumat : Appt

Selasa                        : 15.00 - 16.00 WIB

Sabtu                          : 09.00 - 11.00 WIB