Pulomas DOCTORS

dr. Herman Gofara, Sp.OT(K)

Doctor

Pulomas dr. Herman Gofara

Dokter Spesialis Orthopaedi

Herman Gofara lahir di Jember pada 14 Februari 1970. pria yang akrab disapa Herman ini memiliki latar belakang pendidikan medical fakulty of airlanggga univeristy, surabaya (S1), S2 Orthopedic Resident in University of Indonesia, jakarta (S2), Spine fellowship in University of Indonesia, Jakarta. Spine fellowship in Tohoku University in Sendai, Japan. Memiliki pengalaman kerja sebagai Medical doctor in Eastern Fleet Indonesian Navy, Surabaya dan Head of emergency departement in Cilandak Marine Hospital, Jakarta. Serta bergabung dalam ikatan dokter indonesia.

 

 

Training Experiences

  • Spine fellowship in University of Indonesia, Jakarta
  • Spine fellowship in Tohoky University in Sendai, Japan

Specialities

  • S1 Medical Faculty of Arilangga University, Surabaya (1988-1995)
  • S2 Orthopedic resident in University of Indonesia, jakarata (2001-2007)
  • Spine fellowship in University of Indonesia, Jakarta (2007-2008)
  • Spine fellowship in Tohoku University in Sendai, Japan (2008-2008)

Work Experiences 

  • Medical doctor in Eastern Fleet Indonesian Navy, Surabaya
  • Head of emergency departement in Cilandak Marine Hospital, Jakarta

Organization Experience

  • Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
  • OSTEOARTHRITIS: Kenali Penyakit Dan Cara Mencegahnya

    Bisnis.com, JAKARTA -- Seperti layaknya tiang pondasi pada bangunan, tulang juga adalah penyangga otot-otot tubuh. Tulang yang kuat membuat tubuh lebih leluasa bergerak dan beraktivitas. Namun, seiring bertambahnya usia, kualitas

    Read More

    Bisnis.com, JAKARTA -- Seperti layaknya tiang pondasi pada bangunan, tulang juga adalah penyangga otot-otot tubuh. Tulang yang kuat membuat tubuh lebih leluasa bergerak dan beraktivitas. Namun, seiring bertambahnya usia, kualitas tulang kita pun menurun, dan risiko terserang penyakit semakin besar. Salah satu penyakitnya bernama osteoarthritis (OA).

    Penyakit pengapuran sendi ini adalah penyakit yang biasanya menyerang sendi dan tulang tumpuan seperti lutut,pinggul, dan siku pergelangan tangan. Pada beberapa kasus, OA berpotensi menyebabkan hilangnya matriks protein bernama kartilago yang kuat dan berfungsi sebagai bantal sendi, sehingga terjadi gesekan antar tulang yang menimbulkan nyeri yang hebat pada pasien.

    Menurut dokter spesialis bedah ortopedi dr. Herman Gofara, penyakit ini juga mengakibatkan kerusakan tulang rawan yang progresif di persendian. Meski demikian, diagnosis sejak dini bisa dilakukan secara mandiri berdasarkan gejala yang muncul seperti nyeri sendi yang dialami pasien saat hendak bangkit berdiri setelah lama duduk, dan kaki yang sering mengalami pegal dan kaku, atau nyeri di sendi penopang tubuh lainnya seperti pinggang.

    “Beberapa faktor lain yang mempengaruhi penyakit ini antara lain kepadatan tulang yang diturunkan secara genetik, kelainan bawaan, kelainan hormon, dan otot lemah yang membuat sendi gampang rusak,” ujarnya.

    Herman mengemukakan, kandungan yang terdapat dalam tulang terdiri dari 80% air, dan sisanya kolagen serta proteoglycans. Tidak seperti jaringan tubuh lain, tulang tidak memiliki pembuluh darah sehingga lebih sulit untuk bisa diperbarui/diremajakan ketika mengalami kerusakan.

    Oleh karena itu, dia menghimbau lebih baik mencegah daripada mengobati. Salah satunya dengan mengenali penyakit ini lebih jauh, apa saja penyebabnya, serta mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.

    Hasil penelitian para ahli orthopedi menunjukkan, semakin meningkat usia, semakin besar risiko terserang OA. Hal ini disebabkan karena berat badan yang terus bertambah di saat aktivitas fisik yang kian berkurang. Gejala penyakit ini biasanya dimulai sejak usia 30 tahun dan terus meningkat seiring pertambahan usia.

    Penelitian juga menyebutkan fakta bahwa hampir semua orang di atas 70 tahun mengalami gejala OA ini, dengan tingkat nyeri yang berbeda. Jika dilihat dari faktor usia, sebelum usia 50 tahun, laki-laki memiliki risiko lebih besar terserang penyakit ini, namun ketika berada di atas 50 tahun, perempuanlah yang lebih rentan mengidap OA.

    Selain usia, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah berat badan. Obesitas dapat meningkatkan risiko terserang OA sebab kondisi tersebut membuat kaki menopang beban tubuh yang lebih berat dari seharusnya. Di sisi lain, perempuan memiliki risiko lebih besar terserang penyakit ini, terlebih setelah fase menopause.

    Aktivitas fisik yang berat seperti sepak bola dan angkat beban juga bisa memicu munculnya OA pada tubuh. Pekerjaan berjongkok atau berlutut dalam waktu lama, dan naik-turun tangga juga bisa menjadi pemantik.

    Herman memberikan beberapa tips untuk mencegah datangnya osteoarthritis sebelum waktunya. Selain dengan menjaga berat badan seimbang dan menghindari aktivitas berat seperti yang telah disebutkan, masyarakat bisa melakukan olahraga yang dianjurkan seperti berenang atau bersepeda karena kedua olahraga ini tidak menggunakan beban berat tubuh.

    Jika masih dirasa terlalu sulit, olahraga lain yang lebih sederhana bisa menjadi pilihan. Salah satunya dengan jalan kaki di tempat yang datar dan rata, atau dengan melakukan latihan angkat kaki setinggi 30 derajat dalam posisi telentang, tahan dalam hitungan delapan hingga sepuluh detik, baru turunkan dan lakukan berulang-ulang. Latihan ini akan memperkuat otot paha jika dilakukan secara rutin.

Jadwal Praktek Dokter

Senin –  Sabtu :  14.00 - 18.00 WIB