Alam Sutera DOCTORS

dr. Albert Gandakusuma, Sp.OT

Doctor

Alam Sutera dr. Albert Gandakusuma

Kepala Departemen Bedah Tulang & Traumatologi OMNI Hospital Alam Sutera

Albert Gandakusuma lahir di Surabaya, 4 November 1969. Pria yang akrab disapa Albert mendapatkan pendidikan kedokteran di luar negeri diantara Katholiek Universitet Leuven, Belgium, Faculty of Medicine (1992-1998), Katholiek Universitet Leuven, Belgium Department of Orthopedic Surgery (1998-2004), University of Indonesia, Jakarta, Departemen of Orthopedy, RSCM, Jakarta (2005), Nepean Private Hospital, Sydney, Australia Adult Joint Reconstruction Orthopedic Surgery: Total Hip Arthoplasty, Total Knee Arthoplasty (2006). Spesialisasi yang menjadi bidangnya saat ini ialah Orthopaedi & Traumatologi di OMNI Hospital Alam Sutera. Adapun pelatihan yang pernah diikutinya antara lain pelatihan international patient safety goal, pelatihan hand hygiene, dan pelatihan basic cardiac life support.

Lulusan Pendidikan Kedokteran Luar Negeri, diantaranya :

  • Fakultas Kedokteran Katholiek Universitet Leuven, Belgium (1992 - 1998 )
  • Departemen Bedah Tulang Katholiek Universitet Leuven, Belgium ( 1998 - 2004 )
  • Program Dokter Spesialis Departemen Ortopedik, Universitas Indonesia, Jakarta (2005)
  • Nepean Private Hospital, Sydney, Australia Adult Joint Reconstruction Orthopedic Surgery : Total Hip Arthoplasty, Total Knee Arthoplasty (2006)
  • Olahraga Aman untuk Penderita Rematik

    Berolahraga ringan dan teratur kadang sulit dijalani oleh penderita rematik. Padahal, olahraga menjadi salah satu cara terbaik yang dilakukan untuk menjaga sendi agar tetap sehat. Jika Anda sering merasa nyeri

    Read More

    Berolahraga ringan dan teratur kadang sulit dijalani oleh penderita rematik. Padahal, olahraga menjadi salah satu cara terbaik yang dilakukan untuk menjaga sendi agar tetap sehat. Jika Anda sering merasa nyeri di bagian persendian, tulang seperti rontok atau badan kaku, mungkin Anda alami rheumatoid arthritis (RA) atau rematik. Rematik merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik yang kronik. Walaupun dengan gejala samar-samar, namun pasien umumnya alami gejala awal seperti nyeri musculoskeletal (otot dan tulang) yang cepat berlalu dan morning stiffness (kaku di pagi hari) yang berlangsung beberapa minggu atau bulan tanpa menghasilkan diagnosis.

    Rematik merupakan bagian dari penyakit radang sendi atau artritis. Penyakit ini banyak sekali ragamnya, mencapai lebih dari 100 jenis. Gejala umumnya diikuti dengan kekakuan pada sendi sehingga menjadi sulit digerakkan dan bahkan dapat pula terjadi perubahan bentuk sendi (deformitas).

    Dengan adanya tingkat sensitivitas yang berbeda antarindividu, tak jarang pula ada penderita rematik yang tidak merasakan gejala awal rematik, namun langsung merasakan sakit yang luar biasa saat harus menggerakkan sendi.

    Ada juga beberapa orang yang mengalami gejala rematik dengan disertai peradangan, sendi berwarna kemerahan, bengkak, bahkan hingga demam. Banyak penderita rematik yang takut berolahraga.

    Padahal, olahraga sangat bermanfaat untuk melatih otot dan persendian. Berjalan kaki, berolahraga ringan, atau mengerjakan pekerjaan rumah ringan dapat membantu melatih otot dan sendi agar tidak semakin kaku. Namun, jangan melakukan olahraga yang terlalu berat karena justru dapat menyebabkan cedera.

    Memang tidak sedikit orang yang berpikir bahwa olahraga dapat memperburuk sendi bagi penderita rematik. Padahal, sangat banyak penelitian yang menunjukkan bahwa olahraga membantu mengurangi rasa sakit, kelelahan, meningkatkan fleksibilitas gerak dan kekuatan, serta membuat rematik lebih baik secara keseluruhan. Dikatakan oleh ahli ortopedi dari Omni Hospital Alam Sutera Tangerang, dr Albert Gandakusuma Sp.OT bahwa olahraga yang tepat untuk penderita rematik sebenarnya berbeda pada masing-masing keluhan yang dialami oleh tiap penderita. ”Rematik menyerang beberapa sendi,jadi olahraga yang tepat juga harus dilihat berdasarkan keluhan pasien,” ujarnya.

    Terdapat tiga jenis latihan yang dapat dilakukan dan terbukti aman untuk penderita rematik, yaitu pemanasan, penguatan, dan penyejukan. Pemanasan adalah hal yang paling sederhana dan mudah yang terdiri atas peregangan dengan memegang sendi dan otot yang berbeda masing-masing selama 10 hingga 30 detik. Peregangan meningkatkan fleksibilitas dan peregangan harian adalah dasar bagi setiap program latihan. Untuk latihan penguatan melibatkan otot. Hal ini bisa dilakukan dengan mengangkat beban atau tidak sama sekali. Latihan ini memperkuat otot dan meningkatkan jumlah aktivitas yang dapat Anda lakukan tanpa rasa sakit.

    Sementara pada latihan pendinginan atau latihan aerobik, meningkatkan kebugaran kardiovaskuler. Ada banyak manfaat latihan aerobik, antara lain adalah membuat hati dan pembuluh darah sehat dan memperbaiki suasana hati dan kesejahteraannya. Latihan ini meliputi kegiatan seperti berjalan, berenang, bersepeda, atau menggunakan treadmill. Perlu diketahui bahwa olahraga ringan seperti jalan kaki bermanfaat untuk penderita rematik karena asam urat.

    Hal tersebut dikarenakan, jalan kaki dapat membakar kalori, memperkuat otot, dan membangun tulang yang kuat tanpa mengganggu persendian yang sakit. Namun, dari sekian banyak olahraga yang dapat dilakukan oleh penderita rematik, renang merupakan olahraga yang paling aman. ”Lakukan olahraga dengan meminta pendapat dokter atau terapis terlebih dahulu untuk mengetahui gerakan-gerakan yang terbaik dan apa gerakan yang harus dihindari,” ujarnya.

    Olahraga yang sebaiknya dihindari adalah olahraga yang terlalu membebani lutut, terutama ketika rematik jenis asam urat sedang kumat, seperti olahraga bulutangkis, voli, tenis, joging, atau bela diri. Jangan memilih olahraga yang menggunakan cara berdiri terlalu lama karena akan menimbulkan sakit yang luar biasa. ”Lakukan olahraga selama 20 sampai 30 menit dan rasakan manfaatnya setelah satu bulan berlatih,” ungkap dia. Selain itu, menjaga berat badan ideal menjadi pilihan yang tepat untuk mengurangi nyeri di sendi lutut.
     

  • Sayangi Lutut Saat Berlari

    Olahraga lari kini telah menjadi tren disegala usia. Olahraga yang murah dan mudah ini bahkan menjadi gaya hidup atau lifestyle di berbagai kalangan. Namun sayangnya, berlari bisa menimbulkan masalah kesehatan

    Read More

    Olahraga lari kini telah menjadi tren disegala usia. Olahraga yang murah dan mudah ini bahkan menjadi gaya hidup atau lifestyle di berbagai kalangan. Namun sayangnya, berlari bisa menimbulkan masalah kesehatan serius meskipun tidak mengancam jiwa.

    Salah satu masalah paling umum yang dialami oleh penggemar olahraga lari adalah cedera lutut. Rasa nyeri ringan yang kerap muncul, seringkali diabaikan oleh penggemar olahraga lari. Padahal, nyeri ringan ini jika tidak ditangani dengan benar dapat membahayakan kesehatan lutut dan menimbulkan disfungsi lutut. Cedera saat melakukan olahraga lari ini kerap terjadi ketika seseorang tidak melakukan tahapan olahraga lari dengan tepat.  Cedera dapat dialami oleh siapa pun. Anak-anak maupun orang dewasa, baik pelari profesional ataupun orang awam.

    Terbatasnya informasi mengenai cedera lutut pada pelari menyebabkan kebanyakan orang menyepelekan rasa nyeri yang mereka alami. Banyak yang mengira bahwa rasa nyeri hanya keseleo biasa. Namun, sering kali keseleo ini menjadi sangat serius karena bisa menyebabkan cedera pada tulang rawan sendi, meniscus, dan urat (ligamen).

    Cedera lutut dapat terjadi jika lutut Anda acapkali mengalami trauma berulang (repeated trauma). Penyebab trauma berulang ada beberapa hal, misalnya berolahraga tanpa pemanasan yang cukup, berolahraga secara berlebihan, bentuk kaki O atau X, sering memakai high heels, serta riwayat penyakit pada tempurung lutut.

    Untuk menghindari cedera lutut saat berlari, Anda disarankan untuk melakukan pemanasan yang cukup sebelumnya, dan jangan memaksakan diri terlalu keras. Lakukan peregangan secara tepat dan tingkatkan intensitas berlari anda secara bertahap, tidak langsung melakukan aktivitas berat.


    Narasumber :

    dr. Albert Gandakusuma, Sp.OT

    (Dokter Spesialis Ortopedik dan Traumatologi OMNI Hospital Alam Sutera)

Jadwal Praktek Dokter

Senin - Jumat               : 09.00 - 12.00 WIB

Senin, Rabu, Jumat     : 17.00 - 19.00 WIB

Sabtu                           : 09.00 - 14.00 WIB