• Home
  • Articles
  • Mengenal Penyakit Paru-Paru Obstruktif Kronik
Mengenal Penyakit Paru-Paru Obstruktif Kronik

Mengenal Penyakit Paru-Paru Obstruktif Kronik

Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2013 menyatakan bahwa rokok menyebabkan penyakit yang mengakibatkan kematian hingga 6 juta jiwa di dunia tiap tahunnya. Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Prevalensia perokok di Indonesia adalah 67% (sekitar 58 juta penduduk) jenis kelamin laki-laki dan 2,7% (sekitar 2 juta penduduk) berjenis kelamin wanita. Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 10% atau sekitar 200.000 jiwa dari total kematian di Indonesia disebabkan oleh rokok. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah di antara lima faktor risiko utama penyebab kematian pada tahun 2020 nanti, empat diantaranya memiliki keterkaitan erat dengan kebiasaan merokok, dan dua diantara empat penyakit itu terdapat dalam lingkup kesehatan paru yaitu penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kanker paru.

Apa itu Penyakit Paru Obstruktif Kronik?
Secara umum istilah PPOK belum terlalu familiar di masyarakat. Definisi PPOK itu sendiri adalah suatu penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan hambatan aliran udara saluran napas yang menetap, biasanya bersifat progresif dan berhubungan dengan peradangan saluran napas dan paru yang kronik (jangka panjang) akibat partikel atau gas beracun/ berbahaya.

Apa Penyebab PPOK?
Identifikasi faktor risiko penyebab PPOK sangat penting dalam mencegah dan mengobatinya. Beberapa hal yang berperan sebagai faktor risiko penyebab PPOK adalah asap rokok, polusi udara (dalam dan luar ruangan), infeksi saluran napas bawah (karena bakteri, virus) yang berulang, genetik, proses perkembangan paru selama kehamilan dan masa kecil. Dari keseluruhan faktor tersebut, kebiasaan merokok dan polusi udara adalah penyebab PPOK terpenting dan yang paling sering ditemukan. Risiko PPOK pada perokok tidak hanya ditemukan pada perokok aktif saja, namin perokok pasif juga memberi kontribusi terjadinya gejala PPOK. Polusi dari gas buang kendaraan bermotor dan industri jangka panjang adalah juga pencetus masalah PPOK.

Apa saja Gejala dari PPOK?
Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi dari ringan hingga berat. Beberapa gejala pada pasien PPOK adalah sesak napas yang bertambah berat seiring berjalannya waktu dan aktivitas (kadang menimbulkan bunyi), napas terasa berat dan terengah-engah, batuk kronik (dapat berdahak dan tidak berdahak). Jika pasien PPOK mengalami infeksi saluran napas (atas atau bawah) maka dapat mencetuskan perburukan/ eksaserbasi PPOK-nya. Selain itu PPOK juga dapat menimbulkan masalah lain di luar paru (sistemik) berupa osteoporosis, depresi, jantung, anemia dan penurunan kualitas hidup.

Bagaimana Cara Mendiagnosis PPOK?
PPOK didiagnosisi berdasarkan gejala klinis, identifikasi faktor risiko, pemeriksaan fisis paru, pemeriksaan laboratorium, foto toraks dan yang terpenting untuk menegakkan diagnosisi dengan pemeriksaan uji fungsi paru yang dikenal dengan pemeriksaan spirometri. Pemeriksaan spirometri ini dapat mendeteksi gangguan sumbatan saluran napas dan pengembangan paru, derajat beratnya sumbatan saluran napas serta perencanaan pengobatan yang sesuai untuk penyakit PPOK. Selain itu pemeriksaan spirometri ini dapat dijadikan screening parameter kesehatan fungsi organ paru seseorang.

Penatalaksanaan
Pasien yang telah terdiagnosis PPOK pada awalnya akan ditentukan derajat PPOK-nya untuk merencanakan pengobatan yang terbaik. Tujuan pengobatan PPOK adalah mengurangi gejala, mencegah progresivitas penyakit, mencegah komplikasi dan eksaserbasi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan terapi oksigen dan penggunaan obat-obat paru yang sesuai, rehabilitasi medik/ latihan fisis paru, dan yang paling utama adalah edukasi untuk segera berhenti merokok. Selain itu, jika didapatkan komplikasi dari PPOK maka pasien akan dikonsultasikan dari bagian paru kepada dokter spesialis lain yang kompeten untuk menangani komplikasi tersebut.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memeriksakan kesehatan paru secara berkala, khususnya pada masyarakat berisiko tinggi seperti kelompok perokok berat, pekerja industri yang berhubungan dengan asap, debu, gas berbahaya yang terhirup sehari-hari selama bekerja. Sesuai dengan prinsip penatalaksanaan kesehatan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. RS OMNI Alam Sutera memiliki sarana dan prasaranan diagnostik dan pengobatan bidang paru yang cukup lengkap dan dokter spesialis paru yang kompeten untuk merencanakan pengobatan untuk masalah PPOK tersebut. Jangan ragu untuk segera memeriksakan kondisi kesehatan paru Anda.

 

 

Pulomas dr. Herman Suryatama

dr. Herman Suryatama

Sp.P | Doctor

Read More