• Home
  • Articles
  • Mengenal Seluk Beluk gejala “Silent Disease”
Mengenal Seluk Beluk gejala “Silent Disease”

Mengenal Seluk Beluk gejala “Silent Disease”

Tahukah Anda jika setiap 3 detik terjadi satu kasus patah tulang akibat osteoporosis? Waspadai gejala “silent disease” yang sulit dikenali!

Osteoporosis merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting untuk diperhatikan di seluruh dunia. Hal ini bukanlah tanpa alasan sebab osteoporosis menjadi penyebab dari kasus patah tulang dengan jumlah lebih dari 8.9 juta kasus di tiap tahunnya, dengan kata lain setiap 3 detik, terjadi satu kasus patah tulang yang diakibatkan oleh osteoporosis!

Yang lebih mengejutkan adalah fakta me -ngungkapkan bahwa kebanyakan kaum wa -nita yang mengalami patah tulang akibat tulang yang lemah, ternyata tidak didiagnosa maupun diterapi secara benar untuk kemungkinan adanya osteoporosis, padahal secara keseluruhan 61% kasus patah tulang akibatospteoporosis justru terjadi pada wanita dengan rasio wanita terhadap pria sebesar 6:1.

Gejalanya yang sulit dikenali membuat osteoporosis dijuluki sebagai “silent disease”

Osteoporosis adalah suatu penyakit sistemik yang ditandai dengan kepadatan tulang yang rendah dan struktur mikroskopik tulang yang abnormal, WHO sendiri mendefinisikan Osteoporosis sebagai kepadatan mineral tulang lebih atau sama dengan 2.5 standar deviasi dari rerata masa tulang tertinggi yang terukur pada dual energy x-ray absorptiometry.

Sebaliknya, untuk tulang yang sehat sendiri selalu mengalami proses perubahan di sepanjang usia, tanpa mengenal waktu, namun jika kalsium tulang lebih banyak diserap daripada dideposisi maka kepadatan tulang Anda akan berkurang, sehingga tulang menjadi lebih lemah hingga membuat tulang tersebut menjadi mudah patah.

Sebetulnya ada berapakah jenis osteoporosis yang patut kita waspadai?

Jika berdasarkan faktor penyebabnya, pe- nyakit osteoporosis sendiri terbagi menjadi 2 jenis, yaitu osteoporosis primer dan juga osteoporosis sekunder. Pada osteoporosis primer sendiri dibagi menjadi 2 jenis yaitu osteoporosis post menopausal dan juga osteoporosis senilis yang diakibatkan penuaan. Pada Osteoporosis sekunder sendiri dapat disebabkan oleh banyak faktor sekunder, diantaranya akibat gangguan nutrisi, penyakit inflamasi, adanya dampak negatif dari obat-obatan, konsumsi alkohol secara berlebihan, tumor ganas, merokok dan masih banyak lagi.

Benarkah gejala-gejala indikasi osteoporosis tidak dapat dikenali?

Pengurangan kalsium tulang pada umumnya berlangsung secara bertahap dan bebas dari rasa nyeri. Maka seringkali tidak terdapat gejala-gejala yang mengindikasikan seseorang ter -kena osteoporosis. Inilah sebabnya osteoporosis disebut-sebut sebagai “silent disease”. Pada banyak kasus, gejala pertama dari osteoporosis justru diawali dengan patah tulang, seperti patah tulang belakang, pergelangan tangan atau panggul, walaupun patah tulang akibat osteoporosis sendiri dapat terjadi pada semua tulang yang ada di tubuh kita.

Perlu Anda waspadai jika indikasi patah tulang belakang sendiri tidak dapat dideteksi dengan mudah, namun terdapat gejala menonjol yang diakibatkan oleh kasus patah tulang belakang, seperti:

- Pengurangan tinggi badan

- Perubahan bentuk punggung atas menjadi bongkok

Kenali faktor resiko Anda!

Faktor resiko adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan kemungkinan anda terkena penyakit dalam hal ini adalah osteoporosis. Semakin banyak faktor resiko yang Anda miliki, maka semakin besar kemungkinan Anda berpotensi osteoporosis. Faktor resiko sendiri tergolong menjadi dua, faktor resiko tetap (fixed) dan faktor resiko tidak tetap (modifiable). Meski faktor resiko tetap tak dapat diubah, namun Anda perlu mengetahui agar dapat mengambil langkah bijaksana untuk mengurangi adanya pengurangan kepadatan tulang.

Faktor resiko tidak tetap:

  • Alkohol
  • Merokok
  • Indeks masa tubuh rendah
  • Defisiensi vitamin D
  • Gangguan makan
  • Kurang Olahraga
  • Konsumsi kalsium diet rendah
  • Sering terjatuh

Cegah Osteoporosis!

Setelah kita berumur 20 tahun, penipisan tulang merupakan proses alami yang tidak dapat dihentikan. makin tebal tulang anda, makin kecil kemungkinan tulang tersebut menjadi cukup tipis untuk patah. Tulang merupakan jaringan hidup, dan sistem skeletal terus berkembang dari saat lahir hingga akhir masa remaja, mencapai kekuatan dan ukuran maksimum pada saat pertengahan usia 20 tahun.

Kiat-kiat yang dapat dilakukan pada usia anak hingga remaja adalah sebagai berikut:

  • Menjamin konsumsi makanan bergizi dengan asupan kalsium yang cukup
  • Hindari malnutrisi protein dan status kurang gizi, postur tubuh yang “sangat ramping” pada usia remaja dapat berakibat massa tulang puncak yang rendah.
  • Kekurusan dapat menyebabkan gangguan makan seperti anorexia yang kemudian dapat merusak tulang individu tersebut.
  • Pertahankan konsumsi vitamin D yang adekuat
  • Berpartisipasi dalam olahraga regular
  • Hindari asap rokok (perokok pasif)

Usia Dewasa

Massa tulang yang didapatkan pada usia muda merupakan modal penting yang sangat berpengaruh terhadap kasus patah tulang osteoporosis di usia lanjut. Pada usia muda, formasi tulang lebih dominan dibandingkan resorpsi. Pada usia lanjut, resorpsi tulang berlangsung lebih besar dibandingkan formasi tulang, hal ini mengakibatkan pengurangan kepadatan dan penipisan tulang.

Pencegahan-pencegahan yang dapat dilakukan pada saat usia dewasa adalah:

  • Konsumsi kalsium dan nutrisi yang adekuat
  • Hindari status kurang gizi, terutama dampak dari diet ketat dan gangguan makan
  • Pertahankan asupan vitamin D yang adekuat
  • Partisipasi dalam olah raga reguler yang bertumpu pada kaki
  • Hindari rokok atau menjadi perokok pasif
  • Hindari konsumsi alkohol berlebihan

Terapi apakah yang dianjurkan jika kita terserang osteoporosis dan seberapa efektifkah terapi ini?

Terdapat sejumlah pengobatan efektif sebagai upaya pencegahan dan juga terapi dari osteoporosis, namun pengobatan-pengobatan ini tentunya harus disesuaikan menurut kebutuhan dari masing-masing individu yang harus pula dikombinasikan dengan perubahan pola hidup yang disarankan. Jenis pengobatan yang disarankan seperti:

  • Bisphosphonate
  • Calcitonin
  • Denosumab
  • SERM (selective estrogen receptors modulator)
  • Strontium ranelate
  • Teriparatide
  • Hormone displacement therapy
  • Vertebroplasty and Kyphoplasty

Meski demikian terapi ataupun pengobatan osteoporosis hanya berhasil bila diikuti sesuai dengan rekomendasi dokter spesialis di bidang yang bersangkutan, karena bukan hal yang mudah bagi pasien untuk meminum obat secara rutin, akibatnya setengah dari pasien yang tengah dalam proses terapi kebanyakan memberhentikan pengobatannya setelah 1 tahun berjalan.

Waspadai bahaya “silent disease” osteoporosis, cegah sedini mungkin dengan mengkonsultasikan kondisi anda pada ahlinya.