• Home
  • Articles
  • NYERI SEKITAR PERGELANGAN TANGAN (SINDROM CARPAL TUNNEL)
NYERI SEKITAR PERGELANGAN TANGAN  (SINDROM CARPAL TUNNEL)

NYERI SEKITAR PERGELANGAN TANGAN (SINDROM CARPAL TUNNEL)

Nyeri pada pergelangan tangan sering merupakan salah satu keluhan yang sering ditemui di masyarakat, dengan insidensi berkisar antara 1-5% dari seluruh populasi dan banyak terjadi pada wanita, dengan rentang usia 30-60 tahun. Kejadian ini akan meningkat dengan banyaknya penggunaan tangan yang membutuhkan gerakan berulang pada pergelangan tangan, yang mana sangat familiar dengan kegiatan sehari-hari, seperti penggunaan computer, maupun kegiatan rumah tangga lainnya.

Sindrom Carpal Tunnel (CTS) merupakan salah satu penyebab nyeri pergelangan tangan yang paling banyak ditemui, dan diakibatkan adanya penekanan pada saraf medianus yang berada di pergelangan tangan. Penyebab penekanan saraf ini bermacam-macam, bisa karena kelainan anatomi, infeksi, peradangan, kondisi metabolic seperti diabetes, maupun adanya peningkatan volume akibat kegemukan maupun kehamilan.

Kebanyakan keluhan dari pasien dengan CTS utamanya diawali dengan adanya rasa nyeri sekitar pergelangan tangan, yang diikuti dengan rasa kesemutan dan baal yang semakin memberat pada malam hari. Kesemutan dapat dirasa terutama pada jari jempol hingga setengah jari manis sisi dalam tangan. Bila dibiarkan terlalu lama, maka kemampuan dan kekuatan menggenggam akan menurun, serta otot pada tangan akan mengecil.

Pada penanganannya, tidak semua CTS membutuhkan operasi. Dibutuhkan kedisiplinan penderita untuk bisa sembuh tanpa operasi. Bila penderita datang pada tahap awal, dimana masih belum terdapat gejala seperti rasa baal dan otot yang mengecil, maka masih memungkinkan dilakukan terapi non-operatif seperti penggunaan splint selama 3 bulan dan mengurangi aktivitas. Penggunaan splint ini dianjurkan terutama pada saat beraktivitas, misal pada penderita yang erat dengan berkerja menggunakan mouse komputer. Penggunaan obat-obatan seperti obat nyeri dan anti-inflamasi dapat membantu mengurangi gejala, meskipun tidak dianjurkan untuk penggunaan dalam jangka waktu yang lama. Penyuntikan langsung ke daerah pergelangan tangan juga bisa dilakukan oleh dokter yang berpengalaman, tetapi harus diingat bahwa penyuntikan ini tidak dapat dilakukan berulang setiap kali gejala timbul.

Pilihan operasi adalah pilihan terakhir yang dilakukan pada pasien yang tidak respon terhadap terapi konservatif dan pada pasien yang jelas ditemukan adanya jepitan saraf medianus yang berat. Operasi dilakukan dengan membuat sayatan pada pergelangan tangan dan kemudian membebaskan saraf yang terjepit. Perlu diketahui, bahwa pada kasus yang lama dan berat, terkadang keluhan tidak langsung berkurang, tetapi perlu waktu untuk mengembalikan fungsi saraf dan kekuatan otot untuk kembali ke semula.

Ada beberapa latihan yang dapat dilakukan secara rutin untuk membantu mengurangi nyeri pada CTS, antara lain dengan melakukan menekuk pergelangan tangan keatas dan bawah, latihan mengepal-ngepalkan jari, menggenggam bola karet, maupun beberapa latihan dengan menggunakan beban. Sebelum latihan, dapat dilakukan kompres hangat selama 15 menit dan kompres dingin selama 15 menit setelah selesai latihan. Latihan ini dapat dilakukan 4 kali sehari selama 10-15 menit. Penggunaan splint pergelangan tangan pada malam hari juga sangat dianjurkan. Bila latihan dan mengistirahatkan pergelangan tangan ini dilakukan selama 4 minggu, maka diharapkan gejala CTS ini dapat berkurang dan pasien dapat melanjutkan aktivitas kembali.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya CTS ini dalam kehidupan sehari-hari seperti mencegah gerakan pergelangan tangan yang memungkinkan jepitan saraf secara berulang. Bila terdapat nyeri pada pergelangan tangan akibat suatu aktivitas, sebaiknya dihentikan segera. Perhatikan posisi pergelangan tangan bila tidur atau sedang bersantai, sebaiknya posisi lurus, hindari mengangkat beban berat dengan menggunakan tenaga dari pergelangan tangan, aktivitas seperti menggunakan mouse komputer atau menulis harus memperhatikan posisi dan waktu, sebaiknya jangan terlalu lama pada posisi yang sama, dan hindari menggunakan alat pertukangan yang menimbulkan getaran seperti palu.

Pulomas dr. Steesy Benedicta, M.Ked.Klin

Artikel ditulis oleh dr. Steesy Benedicta, M. Ked. Klin, Sp.OT (Dokter Spesialis Orthopedi & Traumatologi OMNI Hospital Pulomas)

Pendidikan & Pelatihan dr. Steesy Benedicta, M. Ked. Klin, Sp.OT :

  • Pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta (2003 - 2011)
  • Pendidikan Dokter Spesialis Ortopaedi & Traumatologi combined degree Magister Kedokteran Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia (2014 - 2020)
  • Fellowship Knee Surgery & Arthroscopy, Graduate School of Biomedical and Health Sciences, Hiroshima University, Hiroshima, Japan (25 Juni – 19 September 2019)

Jadwal praktek nya :

Senin, Rabu & Jumat    : Pk. 08.00 - 14.00 WIB & Pk. 18.00 - 20.00 WIB

Selasa & Kamis             : Pk. 15.00 - 20.00 WIB

Sabtu                             : Pk. 09.00 - 15.00 WIB