MANIFESTASI KULIT PADA COVID-19

MANIFESTASI KULIT PADA COVID-19

Kasus pneumonia yang tidak jelas pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada bulan Desember 2019. Sebuah virus corona baru yang dinamakan sebagai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) telah diisolasi dari swab saluran napas bagian bawah pada pasien yang terinfeksi. Penyakit virus ini kemudian dinamakan COVID-19 (Coronavirus Disease 2019). Infeksi COVID-19 memberikan gejala klinis berupa demam, kelelahan, batuk kering, anoreksia, sesak napas, rhinorea, augesia, dan anosmia. Namun, selain gejala-gejala tersebut juga dapat timbul gejala pada organ lain, termasuk kulit.

Berbagai studi menunjukkan Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2) merupakan reseptor di sel membran pejamu, dengan afinitas yang tinggi terhadap protein (S) SARS-CoV-2. ACE2 diekspresikan di sel epitel usus, ginjal, pembuluh darah, dan paling banyak di sel alveolus tipe II di paru-paru. ACE2 juga diekspresikan di lapisan sel basal epidermis sampai ke lapisan sel basal folikel rambut. Hal inilah yang menyebabkan infeksi COVID-19 bisa memberikan manifestasi pada kulit

Manifestasi kulit dapat mengenai 20,4% pasien yang terinfeksi COVID-19. Namun, manifestasi kulit ini tidak spesifik dan dapat ditemukan pada penyakit kulit lainnya. Berikut adalah beberapa manifestasi kulit yang sering ditemui dari berbagai laporan:

1. Ruam kemerahan (confluent erythematous/makulopapular/morbiliformis)

Gambaran klinis bisa bervariasi, mulai dari ruam kemerahan di kulit, bercak merah yang bisa disertai sisik, dan ruam kemerahan menyerupai campak. Bisa juga terdapat lesi purpura. Biasanya mengenai area tubuh yang luas, simetris, dan dimulai dari batang tubuh yang kemudian menyebar ke area tubuh lainnya, sering disertai rasa gatal. Seringnya muncul setelah gejala sistemik infeksi COVID-19 terjadi dengan derajat penyakit COVID-19 yang berat.

2. Urtikaria (biduran)

Terutama mengenai area batang tubuh dan anggota gerak. Biasanya muncul bersamaan dengan keluhan sistemik, menetap selama 1 minggu, dan berkaitan dengan gejala COVID-19 derajat sedang-berat. Keluhan gatal hampir selalu dikeluhkan pasien. Adanya lesi biduran dengan demam tanpa gejala pernapasan dilaporkan dapat menjadi gejala awal infeksi COVID-19, sehingga jika terdapat kondisi ini hendaknya waspada dan segera isolasi diri.

3. Pseudo-chillblain

Lesi ini dideskripsikan sebagai bercak kemerahan-keunguan yang mengenai area kaki, dan lebih jarang pada tangan. Menimbulkan gejala nyeri/sensasi terbakar, gatal, tetapi kadang tidak bergejala. Bisa terdapat lesi berupa lenting. Mengenai usia lebih muda, muncul di bagian akhir penyakit COVID-19, dan berkaitan dengan derajat penyakit yang ringan.

4. Papulovesikular

Biasanya mengenai batang tubuh dan berupa lenting kecil monomorfik (berbeda dengan lenting pada cacar yang bersifat polimorfik). Juga bisa mengenai area lengan dan tungkai. Mengenai pasien usia pertengahan, muncul lebih dini dibandingkan gejala lain dan berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit yang sedang. Keluhan gatal biasanya ringan.

5. Livedo reticularis/racemosa-like pattern

Lesi kulit digambarkan sebagai bercak kebiruan-kehitaman dengan susunan seperti renda, membentuk cincin dengan area tengah lebih pucat. Mengenai pasien usia tua dengan tingkat keparahan penyakit COVID-19 sedang-berat.

6. Pola purpurik vaskulitis

Lesi menyerupai gambaran kulit pada pasien dengan demam berdarah, yaitu purpura. Bisa berkembang menjadi lenting berisikan darah. Merupakan lesi kulit yang jarang ditemukan, biasanya mengenai usia tua dengan derajat penyakit COVID-19 berat. Area dapat generalisata, bisa mengenai lipatan, atau area akral.

 

Demikianlah berbagai manifestasi kulit yang paling sering ditemukan dari berbagai laporan. Manifestasi kulit yang dilaporkan pada pasien COVID-19 tidak spesifik dan dapat ditemukan pada kelainan kulit yang lain, maka pada kasus-kasus dengan manifestasi klinis tersebut diperlukan kewaspadaan lebih saat melakukan pemeriksaan. Anamnesis yang cermat terkait COVID-19 disertai penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat harus dilakukan untuk mengantisipasi penularan terhadap tenaga kesehatan.

 

Sumber

  1. Tim Satgas COVID-19 Perdoski. Pandemi COVID-19 dan Implikasinya Terhadap Praktik Dermatologi dan Venereologi di Indonesia. PERDOSKI. April 2020.
  2. Marraha F, Al Faker I, Gallouj S. A Review of the Dermatological Manifestations of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Derm Research and Practice. 2020. https://doi.org/10.1155/9360476.
  3. Genovese G, Moltrasio C, Berti E, Marzano AV. Skin Manifestations Associated with COVID-19: Current Knowledge and Future Perspectives. Dermatol. 2020. DOI: 10.1159/000512932.
  4. Casas CG, Catala A, Hernanderz GC, Rodriguez-Jimenez P, Nieto DF, et al. Classification of the Cutaneous Manifestations of COVID-19: A Rapid Prospective Nationwide Consensus Study in Spain with 375 Cases. 2020. DOI: 10.1111/BJD.19163